Sabtu, 20 September 2014

Jika Engkau Ingin Bermaksiat Kepada Allah

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pernah mendatangi Ibrahimbin Adam dan berkata, ”Wahai Abu Ishaq, aku terus-menerusmencelakai diriku, dan aku berpaling dari segala sesuatu yang mengajakku untuk memperbaiki hidupku.”

Ibrahim berkata: ”Jika engkau memenuhi lima syarat, perbuatan dosa tidak akan pernah membahayakanmu dan engkau dapatmemenuhi hawa nafsumu sebanyak yang kau inginkan.”

”Beritahukan kepadaku syarat-syarat itu,” kata laki-laki itu.”Yang pertama, jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah makan dari rizki (yang diberikan)-Nya.” kata Ibrahim.

”Lalu apa yang dapat kumakan, karena semua yang ada di di bumi adalah rizki dari- Nya?” kata laki-laki itu.

”Dengar,” Ibrahim berkata, ”Apakah masuk akal ketika engkau makan dari rizki-Nya sementara engkau bermaksiat kepada-Nya?”

”Tidak.” Kata laki-laki itu. ”Apa syarat yang kedua?”

”Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah, maka janganlah hidup di atas tanah-Nya.” Kata Ibrahim.

”Ini bahkan lebih buruk dari yang pertama. Semua yang membentang di Barat dan di Timur adalah milik-Nya. Lalu dimana akuakan tinggal?”

”Dengar, ” Ibrahim berkata, ”Jika engkau terus-menerus durhaka kepada-Nya dan makan dari rizki-Nya dan tinggal di tanah-Nya, setidaknya carilah tempat dimana Dia tidak dapat melihatmu, dan bermaksiatlah kepada-Nya disana.”

”Wahai Ibrahim!” laki-laki itu berseru, ”Bagaimana aku dapat melakukannya, sedangkan Dia Maha Mengetahui bahkan rahasia terdalam yang ada dalam dada manusia? Apa syarat keempat?” Diabertanya dengan nada putus asa.

”Bila malaikat maut datang untuk mengambil nyawamu, maka katakan kepadanya: ”beri aku tangguh, agar aku dapat melakukan taubatnasuha dan melakukan amal kebaikan.”

”Bila waktunya tiba, malaikat tak akan mengabulkan permohonanku.” kata laki laki itu.

”Dengar,” Ibrahim berkata, ”Jika engkau tidak dapat menunda kematian untuk bertaubat, lalu bagaimana engkau berharap akan selamat?”

”Katakan kepadaku syarat yang kelima,” kata laki-laki itu. ”Bila malaikat penjaga neraka datang untuk membawamu pergi pada hari Kiamat , jangan pergi bersamanya.”

”Merek a t ida k akan melepaskanku, ” seru lak i laki itu.”Lalu bagaimana engkau berharap akan selamat?” tanya Ibrahim.

”Hentikan, hentikan! Itu cukup bagiku, ” kata laki-laki itu. ”Aku memohon ampun kepada Allah dan aku sungguh bertaubat kepada- Nya.”

Sejak hari itu, laki-laki itu kemudian menghabiskan hidupnya untuk beribadah kepada Allah.

Sumber: Story of Repentance o l e h: Muhammad Abduh MaghawiriUntaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009

Senin, 08 September 2014

Coretan Kehidupan Sosmed

Ini adalah sekilas beberapa coretan pena di September-Oktober yang ada di sosmed, terutama facebook. Tafadhdhol yang ingin mengambil manfaat ^^

"Berapa banyak yang diselamatkan Allah dari pertanggungjawaban tentang apa-apa yang dilihat?
Berapa banyak yang diselamatkan Allah dari pertanggungjawaban tentang apa-apa yang didengar?
Berapa banyak yang diselamatkan Allah dari bahaya lisan dari menyakiti sesama?
Kemudian berapa banyak yang mampu menjaga tentang apa-apa yang dapat dilihat sesuai syariat?
Berapa banyak yang mampu menjaga tentang apa-apa yang dapat didengar sesuai syariat?
Berapa banyak yang mampu menjaga diri dari bahaya lisan untuk menyakiti sesama?
Siapa yang lebih bersyukur pada kedua keadaan itu?
Dia, dia, dan dia
Yaa tentu dia yang mampu bersyukur atas keadaan yang ada, mampu menjaga, dan berusaha lebih dekat atau mengenal Allah 'Aza wa Jalla sebagaimana mestinya tanpa melihat keadaan yang ada." 21 Sept 2014 00:30 WIB

"kenapa pemahaman akan kata kasih sayang baru didapatkan. padahal praktik nya kata tersebut telah didapat sebelum nafas ini berhembus. kini ku sadari kasih sayang orang tua (keluarga), guru, dan sahabat itu begitu manis * yummy  *
begitu menyesal jika teringat fakta masa lalu ada beberapa proses kejadian tidak memperhatikan nasihat mereka.
terima kasih wahai orang-orang yang telah mengukir kisah di skenario hidupku dari Allah 'Aza wa Jalla." 15 Sept 2014

"kata maaf dan terima kasih acap kali belum menjadi sahabat dari kedua bibir. seringkali jika ada suatu hal yang terjadi antara dia dengan dia adalah kalimat lain yang begitu mengagetkan. tak usah risau dengan hal tersebut. pahamilah bahwasanya tidak semua orang terbiasa dengan dua kata itu. jadilah orang yang mudah menerima dan mau mengalah, tak usah kau menjadi penyulut api bagi percikan-percikan api.
berterimakasihlah padanya di dalam hati, bahwa ia telah mengajarkan suatu hal. yaa, mengajarkan bagaimana posisi kita di sisi orang lain jika hal tersebut terjadi." 15 Sept 2014




"pondasi kebaikan ada pada diri kita adalah atas dasar taufiq dari Allah dan perjuangan diri untuk memperbaiki.
apabila posisi kita tetap di jalan bahkan semakin hari semakin buruk kadar keimanan kita serta berkurangnya poin-poin amal kebaikan kita, maka perlu dipertanyakan dua pondasi tersebut?
hal pertama adalah perlu mawas diri, "sesering apakah kau berdoa dan meminta tolong kepada Allah agar selalu dipermudah dalam hal kebaikan?"
lalu hal kedua, "seberapa besar kau telah berusaha untuk beramal dalam kebaikan? seberapa besar kau beranikan diri untuk berubah lebih baik? seberapa besar usaha untuk menahan diri dari kegiatan-kegiatan yang buruk?"
yang sering didapat adalah iman yang selalu tersalahkan dan dalih-dalih yang panjang berbaris baris buah dari pembenaran diri. padahal sungguh di hati kecil terbesit rasa salah yang dalam pada diri. mari kita terus berusaha untuk memperoleh kebaikan itu. tak ada kata terlambat selagi nafas masih berhembus. semoga bermanfaat terutama bagi diri pribadi yang masih banyak kekurangan", 08 Sept 2014 22.00 WIB


"“Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat sepanjang kalian memiliki sesuatu. Apa sesuatu itu? Tentu saja bukan GPS, alat pelacak, dan sebagainya, sesuatu itu adalah pemahaman yang baik bagaimana mengendalikan perasaan.”
— Tere Liye, novel "Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah" 8 Sept 2014


"seberapa dekat kau dengan Al Quran?
seberapa erat hubunganmu dengan Al Quran?
apakah Al Quran itu hanya menjadi hiasan di salah satu sudut ruangan?
apakah Al Quran itu telah tertumpuk beberapa debu di atasnya?
apa yang sering kau dengarkan? berupa lagu-lagu keras? atau lagu-lagu picisan? atau lagu-lagu yang tak berbobot sama sekali?
lantas apakah hatimu tenang? atau terlenakan dalam lagu?
coba bandingkan dengan mendengarkan ayat-ayat Allah. pasti ketenangan hadir dalam hatimu", 08 Sept 2014 21.45 WIB


"ada kesimpulan tersirat yang kini hadir dimana kesimpulan itu membuatku takjub. sungguh 1 : 1000 mungkin pada zaman sekarang. jika dibandingkan dengan mayoritas sumber daya yang ada tentu sangat jauh takarannya. itulah kekuatan ikhtiar dan tawakal untuk memperoleh kebaikan bagi dirinya maupun sekitar. barokallahu fiik #hidayah" 3 Sept 2014